Cirebon – Bekasem Ikan Sajian Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan Cirebon selalu menjadi momen istimewa yang dipenuhi tradisi dan kekayaan budaya.
Salah satu sajian yang paling ditunggu-tunggu dalam perayaan ini adalah makanan khas bernama bekasem ikan, hidangan kuno yang sarat makna spiritual dan sejarah.
Bekasem ikan bukan sekadar makanan biasa—ia adalah simbol warisan leluhur dan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai tradisional Islam di tanah Cirebon.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2957983/original/042066800_1572874430-Bekasem_ikan_salah_satu_lauk_pauk_yang_akan_disajikan_dalam_nasi_jimat_pada_tradisi_Panjang_Jimat_di_Keraton_Kasepuhan_Cirebon.jpg)
Setiap tahun, saat peringatan Maulid Nabi, keraton menyajikan bekasem kepada para tamu, keluarga keraton, dan masyarakat sebagai bentuk sedekah sekaligus penghormatan.
Baca Juga : Dalang Kerusuhan dan Pelaku Penjarahan di DPRD Cirebon
Bekasem adalah olahan ikan yang diawetkan melalui proses fermentasi alami dengan garam dan rempah-rempah selama berhari-hari, bahkan hingga berminggu-minggu.
Proses ini menghasilkan rasa yang khas, asam-gurih dengan aroma tajam, yang dipercaya justru menyimpan nilai filosofi kehidupan.
Menurut juru masak keraton, bekasem dibuat dengan penuh kehati-hatian dan ketulusan, mencerminkan nilai kesabaran, ketekunan, dan pengendalian diri..
Setelah dibersihkan, ikan dibalur dengan garam dan bumbu rahasia, lalu dimasukkan ke dalam tempayan tanah liat dan.
Dalam proses fermentasi, ikan akan melewati perubahan kimia alami yang memperkaya rasa dan teksturnya, hingga siap disantap pada hari Maulid.
Hidangan ini bukan hanya sekadar sajian kuliner, melainkan ritual budaya yang diwariskan
Dalam perayaan Maulid, bekasem disajikan bersama makanan khas lain seperti nasi jamblang, empal gentong, dan kue keraton, dalam acara besar
Para abdi dalem, bangsawan keraton, hingga masyarakat umum berkumpul dalam suasana religius yang penuh syukur dan kekhidmatan.
“Seperti bekasem, manusia juga butuh waktu untuk menjadi matang secara rohani,” ujar salah satu tokoh adat Keraton Kasepuhan.
Dalam catatan sejarah, beliau gemar menggunakan pendekatan budaya dan kuliner sebagai media dakwah yang lembut dan penuh makna.
Masyarakat yang hadir di Keraton Kasepuhan menyambut sajian ini dengan antusias. Banyak yang datang jauh-jauh hanya untuk merasakan bekasem asli buatan keraton.





